shalat sempurna, shalat nabi, sholat nabi, shalat berjamaah, sholat berjamaah, shalat khusyu, sholat khusyu, tentang shalat, tentang sholat, bacaan shalat, bacaan sholat lazada

Sabtu, 27 Agustus 2011

Tradisi Mudik

Istilah "mudik" rupanya sudah menjadi khasanah bahasa Indonesia. Entah dari mana asal kata "mudik" itu, tetapi kita semua sepakat mengartikan kata "mudik" itu sebagai kegiatan "pulang kampung".

Lho koq pulang kampung? Iya, karena masyarakat kita yang menempati wilayah NKRI yang cukup luas ini, terjadi mobilisasi penduduk dari satu kampung atau daerah atau kabupaten atau pun provinsi bekerja mencari nafkah di daerah lain (di luar daerahnya). Sehingga momen pada setiap hari raya Idul Fitri selalu dijadikan acara Silaturahmi masal secara nasional, yang biasa kita sebut "Tradisi Mudik" alias pulang kampung.

Kita melihat betapa kuatnya ikatan bathin antar keluarga, sehingga kalau sampai tidak mudik pada hari raya Idul Fitri rasanya kurang afdol. Bagus memang, setidaknya tali silaturahmi tetap terjaga dan roda perekonomian pun berputar.

Hanya saja hendaknya kita yang merayakan hari raya Idul Fitri (mudik) dapat bersikap bijak. Dalam artian, jangan sampai menghambur-hamburkan uang yang dengan susah payah dicari dan dikumpulkan di tanah perantauan habis dalam sekejap pada acara mudik itu. Sehingga pada saat mau kembali lagi ke tempat perantauannya, mesti bingung mencari bekal dengan cara pinjam sana sini.

Satu hal yang lebih penting adalah, mampu menjaga nilai ibadah puasa kita. Jangan sampai acara mudik itu mengalahkan ibadah puasa kita. Mudik boleh, tapi puasa mesti jalan terus. Istilah para ulama jangan mengerjakan yang sunah (mudik) tapi justru meninggalkan  yang wajib (puasa Romadhon).

Akhirnya saya pribadi melalui media ini menyampaikan "Permohonan maaf kepada para pembaca, apabila selama ini banyak hal yang saya lakukan kurang berkenan di hati para pembaca yang budiman". Selamat hari Raya Idul Fitri 1432 H Minal 'aidzin Wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir dan Bathin.


Selasa, 23 Agustus 2011

Kita Cuma Sekedar Tamu

Ada pepatah mengatakan "ibarat hidup ini hanya singgah untuk minum". Itulah kenyataannya memang tidak lama kita tinggal di dunia ini. Sebagaimana umat akhir jaman, usia kita rata-rata berkisar 60 - 70 tahun saja di dunia ini. Kalau toh ada yang lebih dari 70 tahun itu pun mungkin tidak banyak. Bila demikian halnya berarti kita ini ibarat sedang bertamu di dunia ini.

Ya, benar kita sedang jadi tamu di dunia ini. Lalu siapa tuan rumahnya? Tentu saja yang jadi tuan rumah adalah penguasa langit dan bumi, yaitu Allah SWT. Tapi pernahkah hal ini kita sadari?

Selasa, 16 Agustus 2011

Bahaya Lidah

Tiga bahaya lidah yang harus kita hindari:
- Murka Allah
- Kerasnya hati
- Siksa kubur
Apa sebabnya? Simak hadits-hadits berikut ini:

Dari Abu Hurairah, Nabi SAW bersabda: “Seseorang tiada terasa
tekadang mengucapkan suatu kalimat yang menjadi faktor ia
memperoleh ridha Allah, tahu-tahu derajatnya mananjak beberapa
tingkat. Dan sebaliknya seseorang terkadang melontarkan suatu
ucapan yang mengakibatkan datangnya murka Allah dengan tiada
diperhatikan tahu-tahu dirinya sudah jauh terperosok kejurang
neraka.“ (HR. Bukhari)

Dari Ibnu Umar, Rasul SAW bersabda : “Kalian jangan memperbanyak
omongan selain omongan yang mengandung dzikrullah sebab hal itu
mengakibatkan kerasnya hati, dan manusia yang paling jauh dari
rahmat Allah adalah yang keras hatinya.” (HR. Turmudzi)

Dari Ibnu Abas : “Bahwasanya Rasul SAW melewati dua makam lalu
bersabda : “Dua orang penghuni kubur ini tengah mengalami siksaan
berat, padahal tidak disiksa akibat sesuatu yang besar. Yang satu
sewaktu hidupnya suka mengadu domba, dan yang satunya lagi kurang
sempurna mencuci bekas kencingnya. (HR. Bukhari-Muslim)

Sumber: Mutiara Sempurna oleh Ustadz Akhmad Tefur

Rabu, 03 Agustus 2011

10 Wasiat Rasulullah SAW untuk Mengusir Bisikan Setan, Jin dan Manusia


Tulisan ini dikutip dari Tulisan Al-Ustadz Habib Zein Al-Hadi

1. Jika dia membisikkan: "Anakmu akan". Jawablah: "Semua akan mati, dan anakku akan ke surga, aku malah senang."
2. Jika membisikkan: "Hartamu akan musnah." Jawablah: "Tak apalah, pertanggung- jawabanku menjadi ringan."
3. Jika dia membisikkan: "Orang-orang menzalimi dirimu, sedangkan kamu tidak zalim." Jawablah: "Siksa Allah akan menimpa orang-orang zalim dan tidak mengenai orang-orang yang baik." (Aku serahkan kepada Allah SWT)
4. Jika dia membisikkan: "Betapa banyak kebaikanmu." Jawablah: "Kejelekanku lebih banyak." (Astaghfirullah) .
5. Jika dia membisikkan: "Alangkah banyak shalatmu." Jawablah: "Kelalaianku lebih banyak dari pada shalatku." (Lalai: tidak mengingat bahwa Allah mengawasi dirinya)
6. Jika dia membisikkan: "Betapa banyak kamu bersedekah kepada orang-orang. " Jawablah: "Apa yang aku terima Allah jauh lebih banyak dari yang aku sedekahkan."
7. Jika dia membisikkan: "Betapa banyak orang yang menzalimu." Jawablah: "Orang-orang yang aku zalimi lebih banyak." (Astaghfirullah) .
8. Jika dia membisikkan: "Betapa banyak amalmu." Jawablah: "Betapa sering aku bermaksiat." (A'udzubillah)
9. Jika dia membisikkan: "Minumlah minuman-minuman keras." Jawablah: "Aku tidak akan mengerjakan maksiat." (Aku minum sari ttauhid saja).
10. Jika dia membisikkan: "Mengapa kamu tidak mencintai dunia?" Jawablah: "Aku tidak mencintainya karena telah banyak orang lain yang tertipu olehnya." (dan mereka sengsara batin, kini sebagian di penjara dan sebagian lagi telah wafat berada di neraka Barzakh. Akan aku kuatkan ekonomiku, tetapi aku tidak akan mencintai harta, karena harta hanyalah alat untuk hidupku, tetapi aku bukan untuk harta).
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...